BANJARMASIN – Puluhan siswa dari kompetensi keahlian Desain Komunikasi Visual (DKV) SMK Negeri 1 Tapin Selatan melaksanakan kegiatan kunjungan industri ke dua lokasi strategis di Banjarmasin, yakni TVRI Stasiun Kalimantan Selatan dan pusat percetakan digital La Vanila. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan nyata bagi para siswa mengenai dunia kerja di bidang media dan industri kreatif.
Perjalanan yang dimulai dari sekolah menuju Kota Banjarmasin berlangsung dengan penuh antusiasme. Setibanya di kantor TVRI Kalimantan Selatan, rombongan disambut hangat oleh tim manajemen televisi publik tersebut yang menyatakan rasa senangnya atas kehadiran para siswa untuk belajar secara langsung mengenai proses penyiaran.
Agenda pertama di TVRI dimulai dengan kunjungan ke Studio 1, tempat di mana segala persiapan teknis dilakukan sebelum proses siaran berlangsung. Para siswa diberikan kesempatan untuk melihat langsung bagaimana kru televisi bekerja di balik layar untuk memastikan setiap tayangan berjalan sempurna.
Dalam sesi diskusi, tim TVRI memaparkan berbagai program unggulan mereka, seperti "Habar Banua" yang menggunakan bahasa Banjar, serta program bincang-bincang "Ngopi" atau Ngobrol Pintar. Penjelasan ini memberikan gambaran kepada siswa mengenai keragaman konten yang diproduksi oleh stasiun televisi daerah tersebut.
Para siswa juga diperkenalkan dengan struktur keredaksian, mulai dari peran redaktur kepala hingga redaktur pelaksana yang bertugas mengelola berita. Selain itu, materi mengenai teknik penulisan berita digital seperti penggunaan judul yang menarik atau clickbait serta pembuatan soft news juga menjadi bahasan menarik dalam kunjungan tersebut.
Setelah mengeksplorasi area studio, siswa diarahkan menuju control room atau ruang kendali siaran. Di ruangan yang bersuhu dingin ini, mereka melihat langsung berbagai alat canggih, termasuk switcher yang berfungsi mengontrol perpindahan gambar dari berbagai sumber kamera.
Pihak TVRI juga memberikan penjelasan teknis mengenai langkah antisipasi jika terjadi gangguan listrik saat siaran berlangsung. Hal ini penting agar pelayanan informasi kepada masyarakat tidak terputus meskipun terdapat kendala teknis pada infrastruktur kelistrikan.
Setelah menyelesaikan agenda di TVRI, rombongan melanjutkan kunjungan ke La Vanila, sebuah unit bisnis yang bergerak di bidang fotografi dan percetakan digital. Lokasi ini memiliki fasilitas lengkap mulai dari studio foto hingga laboratorium cetak mini atau mini lab.
Di La Vanila, para siswa diajak melihat proses produksi secara mendalam, termasuk penggunaan printer topografi khusus untuk kebutuhan cetak profesional. Siswa terlihat sangat antusias mempelajari berbagai jenis bahan cetakan yang digunakan dalam industri kreatif.
Instruktur di La Vanila memaparkan perbedaan berbagai ukuran kertas, mulai dari ukuran standar A3 hingga ukuran A3+ yang memiliki dimensi lebih luas. Pengetahuan ini sangat krusial bagi siswa DKV yang nantinya akan sering bergelut dengan spesifikasi cetakan dalam pekerjaan mereka.
Selain ukuran, materi mengenai jenis bahan seperti kertas HVS, kertas foto, hingga bahan bontax atau vinyl juga dijelaskan. Bahan-bahan tersebut dipilih berdasarkan kebutuhan pelanggan, terutama bahan vinyl yang memiliki keunggulan tahan terhadap air atau "kahan banyu".
Salah satu momen yang paling menarik perhatian siswa adalah ketika mereka melihat langsung mesin cetak industri berskala besar. Mesin-mesin tersebut memiliki kecepatan tinggi dan akurasi warna yang sangat persis dengan desain aslinya, mencapai tingkat kemiripan 100 persen.
Para siswa sempat dibuat terkejut saat mengetahui nilai investasi dari peralatan yang ada di industri tersebut. Beberapa mesin cetak canggih di sana diketahui memiliki harga yang sangat fantastis, bahkan ada yang mencapai nilai di atas 9 miliar rupiah.
Di area produksi lainnya, siswa mempelajari teknik laminasi baik menggunakan metode panas maupun dingin. Mereka juga diberikan demonstrasi mengenai cara kerja sensor laser pada mesin pemotong yang memastikan hasil potongan kertas atau stiker sangat presisi dengan jarak yang dapat diatur hingga milimeter.
Untuk kebutuhan promosi luar ruang, La Vanila memamerkan mesin cetak spanduk yang mampu mencetak media dengan lebar hingga 3,2 meter. Siswa melihat bagaimana proses pencetakan bahan outdoor dilakukan dalam skala besar dengan durabilitas yang tinggi.
Teknologi lain yang dipelajari adalah penggunaan material stiker berlubang atau perforated sticker. Material ini unik karena didesain sedemikian rupa sehingga dari sisi dalam ruangan tetap terlihat transparan ke luar, namun dari sisi luar hanya menampilkan gambar desain secara utuh.
Pihak industri menekankan bahwa seluruh hasil produksi yang berkualitas tidak terlepas dari peran penting para desainer. Desainer di balik layar bertanggung jawab merancang tata letak dan komposisi visual sebelum file tersebut masuk ke tahap produksi cetak.
Kesan mendalam dirasakan oleh para siswa selama mengikuti kunjungan ini. Salah satu siswa mengungkapkan bahwa pengalaman melihat langsung alat-alat canggih dan proses kerja profesional membuatnya belajar banyak hal baru yang tidak didapatkan di dalam kelas.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang rekreasi edukatif, tetapi juga mampu memacu semangat siswa untuk terus mengasah keterampilan mereka di bidang desain dan multimedia. Dengan melihat standar industri yang tinggi, siswa diharapkan memiliki gambaran mengenai kompetensi yang harus mereka miliki setelah lulus nanti.
Guru pendamping dari SMKN 1 Tapin Selatan menyampaikan terima kasih kepada TVRI dan La Vanila atas kesempatan berbagi ilmu yang diberikan. Kolaborasi antara sekolah dan industri seperti ini menjadi kunci utama dalam mencetak lulusan yang siap kerja dan relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.