Siswa SMKN 1 Tapin Selatan Telusuri Jejak Sejarah dalam Kegiatan Jelajah Cagar Budaya 2024
Vera Arviska | 23 Maret 2024 | Dibaca 18 kali | DINAS PENDIDIKAN

TAPIN – Puluhan siswa SMK Negeri 1 Tapin Selatan berkesempatan menggali nilai-nilai sejarah dan budaya lokal melalui kegiatan "Jelajah Cagar Budaya" Kabupaten Tapin tahun 2024. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan guna mengenalkan aset-aset bersejarah kepada generasi muda.

Acara pembukaan dilaksanakan di lingkungan sekolah dengan dihadiri oleh jajaran manajemen sekolah yang diwakili oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Ibu Rukirini, serta perwakilan dari Seksi Cagar Budaya dan Permusian Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam sambutannya, pihak sekolah menyampaikan apresiasi yang besar karena telah ditunjuk sebagai peserta dalam program edukatif ini.

Tujuan utama dari penjelajahan ini adalah untuk memupuk rasa bangga dan penghargaan terhadap warisan budaya di kalangan siswa. Diharapkan, melalui interaksi langsung dengan objek bersejarah, muncul semangat untuk melindungi dan melestarikan aset bangsa yang ada di daerah mereka sendiri.

Sebelum turun ke lapangan, para siswa diberikan pembekalan mengenai definisi cagar budaya. Narasumber menjelaskan bahwa cagar budaya adalah benda atau struktur yang telah berumur minimal 50 tahun atau lebih dan memiliki nilai penting bagi sejarah serta ilmu pengetahuan. Penekanan diberikan bahwa tidak semua benda tua otomatis menjadi cagar budaya tanpa memenuhi kriteria perlindungan tertentu.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Masjid Al-Mukarramah, atau yang lebih dikenal luas oleh masyarakat sebagai Masjid Banua Halat. Masjid ini merupakan kategori struktur cagar budaya yang memiliki nilai historis sangat kuat bagi penyebaran agama Islam di wilayah Tapin dan sekitarnya.

Di lokasi ini, siswa belajar mengenai sejarah panjang pembangunan masjid yang berkaitan erat dengan masuknya Islam ke daerah Banua Halat. Nama "Al-Mukarramah" sendiri merupakan nama resmi masjid tersebut, meskipun identitas "Banua Halat" jauh lebih melekat karena letaknya di desa tersebut.

Sejarah masjid ini juga tidak lepas dari peristiwa heroik Perang Banjar. Diketahui bahwa masjid ini pernah dibakar saat berkobarnya perang pertama para pejuang Banjar melawan penjajah Belanda, yang menandai titik awal perlawanan petani di daerah tersebut. Selain itu, terdapat kisah-kisah tutur masyarakat Meratus mengenai tokoh legendaris seperti Dayuhan dan Intingan yang mewarnai khazanah budaya lokal di sekitar masjid.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Makam Alimul Fadil Syekh Haji Salman Al-Farisi. Di sini, para siswa mempelajari silsilah tokoh ulama besar tersebut yang ternyata merupakan keturunan langsung dari ulama kharismatik Kalimantan Selatan, Syekh Arsyad Al-Banjari.

Berdasarkan catatan sejarah yang dipaparkan, Syekh Salman Al-Farisi telah berangkat ke Makkah untuk menuntut ilmu sejak usia 15 tahun setelah ibunda beliau wafat. Di Makkah, beliau belajar bersama kakak-kakaknya, yaitu Syekh Haji Abdullah dan Syekh Haji Muhammad Nur, sebelum akhirnya kembali untuk berdakwah.

Selama kunjungan, antusiasme siswa terlihat saat sesi tanya jawab dan kuis berhadiah. Siswa diuji pengetahuannya mengenai materi yang telah disampaikan, mulai dari nama-nama keturunan Syekh Salman Al-Farisi hingga detail sejarah perlawanan rakyat terhadap Belanda.

Kegiatan jelajah ini ditutup dengan doa bersama dan harapan agar ilmu yang didapatkan menjadi amal ibadah serta menambah wawasan siswa mengenai kekayaan daerahnya. Pihak penyelenggara menekankan bahwa mengenal cagar budaya adalah langkah awal bagi pemuda untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga identitas bangsa di tengah arus modernisasi.

Sumber: https://youtu.be/CBUSu89DQeI?si=CxL7EN9BeOF6djNl


BAGIKAN :



Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin